Thaipusham, Kontemplasi Diri Menuju Kebenaran Hakiki - (Kemenangan Dharma Melawan Adharma)
- Atma Jyothi
- Feb 27, 2024
- 2 min read

Dalam Hindu terdapat suatu masa ketika kejahatan begitu menguasai dunia.
Kekuatan jahat itu berasal dari Asura, iblis yang luar biasa jahatnya di jagat raya,
sehingga membuat Tuhan menjelma untuk menyelamatkan dharma, seperti
disabdahkan Sri Krisna dalam Gita;
Yada yada hi dharmasya glanir bhavati bharata
Abhyutthanam adharmasya tadatmanam srjamy aham
Paritranaya sadhunam vinasaya ca duskrtam
Dharma samsthapanarthaya sambhavami yuge yuge
(Kapan pun dan di mana pun pelaksanaan dharma merosot dan hal-hal yang
bertentangan dengan dharma merajalela, pada waktu itulah Aku sendiri menjelma,
wahai putera keluarga Bharata. Untuk menyelamatkan orang saleh,
membinasahkan orang jahat dan untuk menegakkan kembali prinsip-prinsip
dharma, Aku sendiri muncul pada setiap jaman.
(Bhagavad Gita, 4:7-8).
Salah satu tradisi ritual keagamaan Hindu etnis Tamil/India adalah Thaipusham
sebagai satu ritual keagamaan memperingati penegakan Dharma atau kebenaran.
Thaipusham berasal dari kata “Thai” yang diambil dari bulan kesepuluh kalender
Tamil dan “pusam” yang diambil dari sebuah nama Bintang yang terang pada hari
Thaipusham.
Dikisahkan pada masa lalu, Assura/ Pakasura (symbol Adharma) menebar terror/
kekacauan di masyarakat, yang menteror rakyat India sehingga mengakibatkan
segenap hewan, tumbuhan, dan manusia yang mendiami muka bumi pun tertindas
dalam waktu cukup lama. Akibat terror ini rakyat India pun memohon bantuan
Dewa Brahma memohon waranugrahanya (anugrahnya) untuk memusnahkan
terror tersebut dengan mengusir raksasa Pakasura. Kemudian Dewa Brahma
memberikan saran, hanya anak Dewa Siwa yang mampu membinasakan Raksasa
Pakasura, atas saran Dewa Brahma, maka rakyat India Utara pergi berdoa kepada
Dewa Siwa di Sivaloka, agar beliau berkenan menghilangkan terror tersebut.
Dewa Siva pun berkenan dengan Doa para bhaktanya, kemudian Dewa Siva
mengutus anak bungsunya yang bernama Murruga/ Subramaniam “Bahasa Tamil”
atau yang biasa dikenal dengan nama Dewa Kumara, sebagai perwujudan
dharma/kebenaran, untuk menghilangkan terror dari Raksasa Pakasura. Dewa
Murruga digambarkan sebagai Dewa berparas muda, mengendarai burung merak
dan bersenjata busur panah. Mengetahui Putranya diutus turun ke dunia untuk
menegakkan kebenaran, Parvati “Dewi Durga” menghadiakan senjata tombak
“Vell”, kepada anaknya Dewa Kumara, untuk dipakai bertarung melawan Raksasa
Pakasura.
Terjadilah pertarungan yang sangat sengit antara Dewa Murruga dengan Raksasa
Pakasura, dengan kata lain pertarungan ini merupakan pertarungan antara
dharma melawan adharma. Dikarenakan kewalahan Menghadapi Dewa Murruga,
maka Raksasa Pakasura menghindar, Dewa Murruga terus mengejar, dan
sampailah Raksasa Pakasura di India Selatan. Sesampainya di India selatan,
kembali terjadi pertarungan sengit diantaraa mereka berdua, dan Dewa Murruga
behasil membunuh Raksasa Pakasura.
Keberhasilan Dewa Murruga membunuh Raksasa Pakasura, segera tersebar ke
seluruh negeri, sama halnya dengan perlawanan Rama melawan Rahwana, yang
dengan cepat tersebar ke pelosok negeri. Kemenangan Dewa Murruga atas
Raksasa pakasura, dirayakan dengan penuh haru oleh masyarakat India Selatan,
sebagai kemenangan dharma melawan adharma, yang dikenal dengan peringatan
Thaipusham. Dikarenakan terbunuhnya Raksasa Pakasura di India Selatan, maka
perayaan Thaipusham lebih meriah dirayakan oleh masyarakat India Selatan yang
beragama Hindu.






