top of page
Search

Thaipusham, Kontemplasi Diri Menuju Kebenaran Hakiki - (Kemenangan Dharma Melawan Adharma)

Oleh: D. Sures Kumar, S.Ag.,M.Si


Dalam Hindu terdapat suatu masa ketika kejahatan begitu menguasai dunia.

Kekuatan jahat itu berasal dari Asura, iblis yang luar biasa jahatnya di jagat raya,

sehingga membuat Tuhan menjelma untuk menyelamatkan dharma, seperti

disabdahkan Sri Krisna dalam Gita;


Yada yada hi dharmasya glanir bhavati bharata

Abhyutthanam adharmasya tadatmanam srjamy aham

Paritranaya sadhunam vinasaya ca duskrtam

Dharma samsthapanarthaya sambhavami yuge yuge


(Kapan pun dan di mana pun pelaksanaan dharma merosot dan hal-hal yang

bertentangan dengan dharma merajalela, pada waktu itulah Aku sendiri menjelma,

wahai putera keluarga Bharata. Untuk menyelamatkan orang saleh,

membinasahkan orang jahat dan untuk menegakkan kembali prinsip-prinsip

dharma, Aku sendiri muncul pada setiap jaman.

(Bhagavad Gita, 4:7-8).


Salah satu tradisi ritual keagamaan Hindu etnis Tamil/India adalah Thaipusham

sebagai satu ritual keagamaan memperingati penegakan Dharma atau kebenaran.

Thaipusham berasal dari kata “Thai” yang diambil dari bulan kesepuluh kalender

Tamil dan “pusam” yang diambil dari sebuah nama Bintang yang terang pada hari

Thaipusham.


Dikisahkan pada masa lalu, Assura/ Pakasura (symbol Adharma) menebar terror/

kekacauan di masyarakat, yang menteror rakyat India sehingga mengakibatkan

segenap hewan, tumbuhan, dan manusia yang mendiami muka bumi pun tertindas

dalam waktu cukup lama. Akibat terror ini rakyat India pun memohon bantuan

Dewa Brahma memohon waranugrahanya (anugrahnya) untuk memusnahkan

terror tersebut dengan mengusir raksasa Pakasura. Kemudian Dewa Brahma

memberikan saran, hanya anak Dewa Siwa yang mampu membinasakan Raksasa

Pakasura, atas saran Dewa Brahma, maka rakyat India Utara pergi berdoa kepada

Dewa Siwa di Sivaloka, agar beliau berkenan menghilangkan terror tersebut.

Dewa Siva pun berkenan dengan Doa para bhaktanya, kemudian Dewa Siva

mengutus anak bungsunya yang bernama Murruga/ Subramaniam “Bahasa Tamil”

atau yang biasa dikenal dengan nama Dewa Kumara, sebagai perwujudan

dharma/kebenaran, untuk menghilangkan terror dari Raksasa Pakasura. Dewa

Murruga digambarkan sebagai Dewa berparas muda, mengendarai burung merak

dan bersenjata busur panah. Mengetahui Putranya diutus turun ke dunia untuk

menegakkan kebenaran, Parvati “Dewi Durga” menghadiakan senjata tombak

“Vell”, kepada anaknya Dewa Kumara, untuk dipakai bertarung melawan Raksasa

Pakasura.


Terjadilah pertarungan yang sangat sengit antara Dewa Murruga dengan Raksasa

Pakasura, dengan kata lain pertarungan ini merupakan pertarungan antara

dharma melawan adharma. Dikarenakan kewalahan Menghadapi Dewa Murruga,

maka Raksasa Pakasura menghindar, Dewa Murruga terus mengejar, dan

sampailah Raksasa Pakasura di India Selatan. Sesampainya di India selatan,

kembali terjadi pertarungan sengit diantaraa mereka berdua, dan Dewa Murruga

behasil membunuh Raksasa Pakasura.

Keberhasilan Dewa Murruga membunuh Raksasa Pakasura, segera tersebar ke

seluruh negeri, sama halnya dengan perlawanan Rama melawan Rahwana, yang

dengan cepat tersebar ke pelosok negeri. Kemenangan Dewa Murruga atas

Raksasa pakasura, dirayakan dengan penuh haru oleh masyarakat India Selatan,

sebagai kemenangan dharma melawan adharma, yang dikenal dengan peringatan

Thaipusham. Dikarenakan terbunuhnya Raksasa Pakasura di India Selatan, maka

perayaan Thaipusham lebih meriah dirayakan oleh masyarakat India Selatan yang

beragama Hindu.

 
 
bottom of page